Minggu, 22 Maret 2009

Toilet

Wartawan Budi Harsono menggerigiti ujung pangsitnya. Ia sedang membaca sebuah judul artikel salah satu koran ternama di Indonesia. Judulnya 'Seorang Pria Menikah dengan Sebuah Toilet'. Judul itu sebenarnya tidak sesuai dengan kegiatan lain yang sedang dilakukannya, yaitu makan bakso di warung langgananya. Tetapi Budi telah mengalami berbagai macam peristiwa lain, pembunuhan, perampokan, penganiayaan, dan masih mampu makan apapun yang tersedia dihadapannya. Bagaimanapun, manusia kan butuh makan.

Malam itu udara agak panas, dan suhu udara agaknya menjadi salah satu alasan bagi orang-orang untuk keluar dan makan bakso, karena malam itu warung bakso Pak Adi itu tampak sepi, berbeda dengan saat-saat dimana hujan turun dan menjadikan udara begitu dingin, sampai-sampai kita bisa melihat asap putih keluar dari setiap mulut orang yang berbicara, atau sekedar menghela nafas. Karenanya, Pak Adi sendiri tidak mempunyai banyak kesibukan selain sekali-kali keluar masuk warung dan rumahnya yang dijadikan satu, sebagaimana warung-warung kecil lainnya, bagian depannya dijadikan warung dan dibelakangnya adalah rumah, tempat pemilik warung dan keluarganya tinggal. Ia cukup mengenal Budi, yang sudah berkali-kali datang ke warungnya, tidak bergantung pada cuaca seperti orang-orang lain, dan karenanya ia berani membuka percakapan.

"Aneh ya, Dik?" Pak Adi memulai percakapan. Budi hanya meliriknya sebentar melalui bagian atas korannya. "Orang itu. Kayak nggak mikir aja, apa enaknya coba kawin sama toilet?" ujarnya, diiringi dengan tawa lepas.

Budi hanya tersenyum dan melipat kembali korannya dengan rapi. Ia menanggapi kata-kata pemilik warung, " Ya, macam-macam Pak. Pasti ada alasannya orang melakukan sesuatu," sambil berkata begitu, ia menyuapkan separuh bakso ke mulutnya. Hap! Dengan sekali kunyah, bakso itu lenyap.

Pak Adi tetap terkekeh-kekeh. "Alasan gimana, Dik? Toilet kan nggak bisa punya anak. Nggak bisa disuruh masak atau bantuin kerjaan rumah. Kayak saya sekarang ini," ia menyulut rokok dan menghisapnya sekali, dan meneruskan pembicaraannya," Saya sih nggak kebayang gimana caranya saya bisa jualan bakso gini kalau nggak ada si Neng," ia menghisap rokoknya sekali lagi dan menghembuskannya," Nggak kebayang gimana saya mesti ngurusin tuh anak tiga, yang kalo bangun ramenya udah kayak kebun binatang," Pak Adi menggelengkan kepalanya sebentar, lalu mulai tertawa lagi. "Ya...tapi toilet sih nggak butuh makan ya, Dik?"

Budi tertawa halus demi menjaga perasaan si empunya warung. Ia tidak mengatakan bagaimana pendapatnya tentang keluarga Pak Adi, atau tentang Pak Adi sendiri. "Tetap saja Pak, saya rasa orang itu juga nggak mau menikah dengan toilet kalau dia nggak punya alasan tertentu. Misalnya, kalau dia pernah sakit hati pada seseorang..." Budi tidak melanjutkan kalimatnya.

Si pemilik warung menanggapi dengan ceria," Ah, itu mah saya juga tahu, Dik! Kalau kata orang, secara psikologis, gitu kan?" Budi menatap bapak tua itu dengan kagum. Yang ditatap rupanya menyadari apa arti pandangan Budi, karena ia meneruskan ocehannya," Jangan dikira saya nggak tahu apa-apa, Dik! Jaman sekarang mah yang gitu udah biasa, anak saya yang masih SD juga udah tahu kata-kata kayak gitu. Banyak disebut di TV itu."

Budi tersenyum maklum. Di tengah banyaknya perdebatan mengenai fungsi dan ketergantungan akan benda itu, televisi setidaknya sudah memberikan perbendaharaan kata-kata baru bagi masyarakat, batinnya. Ia memilih untuk melanjutkan kalimatnya yang terputus, "Nah, semacam itulah Pak. Misalnya, kalau orang itu pernah sakit hati pada seseorang, mungkin ia akan menganggap bahwa benda yang ditemuinya setiap hari itu lebih berharga dibandingkan orang-orang disekitarnya, dan karena itu ia pun memilih menikah dengan benda tersebut daripada dengan manusia asli," ujar Budi.

Pak Adi hanya mengangguk-angguk, dan percakapan mereka pun terpaksa dihentikan sampai disitu ketika sebuah mobil berhenti di depan warung dan keluarlah para penumpangnya, sepasang suami istri dan dua orang anak mereka yang kelihatannya baru saja menempuh perjalanan jauh dan mengantuk karenanya. Budi mengamati Pak Adi yang sibuk melayani pembeli yang tiba-tiba saja bertambah, karena saat itu sebuah motor juga berhenti di depan warung, membawa sepasang kekasih yang tampaknya sedang menikmati malam berduaan. Gagasan tadi melayang-layang dalam pikirannya. Apakah topik tadi cukup menarik untuk dibahas? Budi meraih kembali koran yang tadi sudah dilipatnya. Ya, tidak disebutkan keterangan lebih lanjut tentang alasan orang itu menikahi toiletnya. Hanya disebutkan sambil lau kegemparan yang ditimbulkannya. Mungkin kalau dia berhasil mengorek keterangan lebih lanjut, ia, wartawan Budi Harsono, bisa menyajikan sebuah artikel yang memikat, tajuk utama sebuah koran terkemuka. Dengan pikiran inilah Budi cepat-cepat menghabiskan baksonya dan segera menaiki motornya untuk pergi ke alamat yang tertera dalam koran, tentu saja setelah ia membayar harga baksonya.

~*~

"Ya? Oh, ya, tentu saja. Iya, terima kasih banyak, Pak," Budi memutuskan sambungan teleponnya, kemudian menekuri buku catatannya yang kini tengah menunjukkan alamat seseorang yang baru saja disalinnya. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum puas dan kembali menaiki motornya, membelah kota dengan sisa-sisa bahan bakar kendaraan tersayangnya itu. Budi begitu bersemangat memikirkan reaksi editor majalah tempatnya bekerja selama ini sebagai wartawan lepas ketika melihat hasil buruannya kali ini. Ya, pria yang menikah dengan sebuah toilet itulah sasarannya.

Sepanjang perjalanan, Budi tidak dapat melepaskan pikirannya dari bayangan calon narasumbernya. Hmm...kira-kira apa, ya, yang membuat pria ini begitu kukuh untuk menikahi sebuah toilet ketika masih banyak wanita-wanita lajang di luar sana? Budi membiarkan khayalannya berkreasi sebisanya, menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah dibayangkannya sebelumnya.

Mungkin ia adalah orang yang merasa bahwa dirinya kotor, tidak ubahnya seperti sebuah toilet yang setiap hari terus-menerus dikotori oleh orang lain. Budi mengernyitkan alisnya. tidak, itu tidak cocok. Kalau memang begitu keadaannya, bukankah ia seharusnya memilih sebuah tempat sampah, atau baju bekas, atau apalah sesuatu yang dianggapnya sama kotor dengan dirinya? Kenapa harus toilet? Toilet sendiri bukan benda yang kotor, kan? Ia hanya sebuah sarana yang dicari oleh orang ketika orang tersebut hendak menunaikan hajatnya, yaitu membuang kotoran, entah itu berupa feses, urin, muntahan, sampah, dan yang lainnya. Sekali lagi Budi menggelengkan kepalanya. Udara malam yang tadinya panas perlahan berubah menjadi dingin, dan hal ini sama sekali tidak disadarinya.

Atau, mungkin si suami toilet ini pernah patah hati pada seorang wanita. Kesepian dan putus asa, namun ia tidak dapat menemukan pengganti wanita yang dicintainya itu. Tidak ada juga orang yang bersedia mendengarkan seluruh keluh kesahnya, menerima cucuran air matanya, ataupun sekedar menepuk punggungnya dalam masa-masa sulit yang dilaluinya setelah patah hati. Ya, kemungkinan yang ini sepertinya adalah kemungkinan yang paling dekat dengan kebenarannya.

Budi mengigit bibirnya saking bersemangatnya. Sebentar lagi ia sudah akan tiba ditempat buruannya berada. Dibelokkannya motornya menuju sebuah jalan kecil yang ditandai sengan sebuah gapura di depannya. Nomor sebelas A... ah, ini dia! Budi segera memarkirkan motornya di tepi jalan begitu menemukan alamat yang dicarinya, Tidak dipedulikannya hujan yang saat itu mulai turun membasahi jaketnya.

Ia mengeluarkan kartu tanda pengenalnya dari dompet, sekedar untuk berjaga-jaga. Kemudian barulah ia menekan bel di sela-sela pagar rumah yang tertutup rapat itu. Setelah menekan bel beberapa kali, seorang pria muda membuka pintu rumah dan bertanya keheranan pada tamunya itu.

"Mencari siapa, ya?" tanyanya heran.

Budi terpaksa berteriak cukup keras agar bisa menandingi suara petir yang tiba-tiba menyambar, "Pak Setyo ada, Pak?" ia balas bertanya.

"Oh, saya Setyo sendiri, ada keperluan apa?"

"Nama saya Budi Harsono, saya wartawan lepas dari majalah Hari Cerah, saya ingin mewawancarai bapak sehubungan dengan berita ini," Budi menjawab sambil melambai-lambaikan koran yang dari tadi dipegangnya. Koran itu kini sudah agak kusut karena terpaan angin dan hujan selama perjalanan tadi. Tapi, Pak Setyo rupanya masih mengenali koran tersebut. Ia tersenyum ramah dan mempersilakan Budi masuk ke rumahnya.

Beberapa saat kemudian, kedua pria itu sudah berada di ruang tamu Pak Setyo. Dua gelas kopi hangat ikut serta menemani mereka, sementara di luar hujan dan angin mengamuk seolah tidak puas akan apa yang bisa diterjang. Budi memulai wawancaranya dengan sebuah pertanyaan.

"Pak Setyo, sebenarnya, kenapa Bapak mau-maunya menikahi sebuah toilet, sementara tentunya masih banyak wanita lain di luar sana yang mungkin menginginkan bapak menjadi pasangan mereka?" tanya Budi sopan.

Setyo tersenyum lebar, dan menjawab, "Alasannya sederhana. yaitu karena saya sendiri merasa saya adalah sebuah toilet," ia menyeruput sedikit kopinya. jawabannya menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih dalam pada diri Budi. Baginya, pria di depannya ini tamoak sama warasnya dengan orang biasa, dan cukup tampan pula. Tapi kenapa ia mengatakan hal yang tidak waras begini?

"Sebuah toilet? Anda merasa bahwa anda adalah sebuah toiolet? Kenapa?" tanya Budi hati-hati.

"Karena toilet adalah sebuah benda, sebuah sarana yang diperlukan bila orang ingin mengeluarkan sesuatu, menumpahkan sesuatu, dan ya, dalam hal itu saya merasa bahwa diri saya adalah toilet. Bukan suat hal yang aneh bukan, bila sebuah toilet jatuh cinta pada toilet lainnya? Sama saja dengan manusia yang terlibat asmara dengan manusia lainnya, ataupun seekor hewan yang tertarik dengan sesama jenisnya. Tidak ada hal yang istimewa, kan?" Senyum Setyo bertambah lebar, bahkan senyumnya semakin mirip dengan sebuah seringai. Budi tidak memperhatikannya, ia tetap terfokus dengan pinsil dan buku catatannya, serta tape recorder yang diputarnya. Dan ia masih terus mengajukan pertanyaan.

"Seandainya Bapak adalah benar sebuah toilet, apakah bapak tidak heran dengan kemampuan bapak untuk dapat bercakap-cakap dengan manusia seperti saya ini?" tanya Budi lebih lanjut.

Setyo menggumam tidak jelas, dan hanya kata-kata terakhirnya yang didengar Budi, "...Apa kamu yakin bahwa kamu adalah manusia, dan bukannya toilet seperti saya?" guntur menggelegar, membuat bulu kuduk Budi meremang. Namun ia yakin, bahwa yang menyebabkan bulu kuduknya meremang adalah kata-kata Setyo barusan. Ia tetap berpura-pura tidak peduli dan meneruskan wawancaranya. Kilat menyambar bersusulan, seolah tengah mengadu kekuatannya unuk menghancurkan.

Mereka terus melanjutkan wawancara tersebut hingga pagi menjelang dan hujan pun reda. Wawancara tersebut diakhiri ketika kokok ayam jantan pertama terdengar di komplek perumahan itu. Dengan puas Budi menatap hasil wawancaranya, dan minta diri kepada sang empunya rumah. Ia segera menuju kantor penerbitan majalah tempatnya bekerja, hatinya dipenuhi perasaan bangga yang meluap-luap. Ia telah berhasil mendapatkan kesaksian sampah dari seorang yang gila, betul-betul gila orang itu, menyangka dirinya toilet! Tidak dipedulikannya kemacetan yang sudah terjadi sejak dini hari, bahkan suara klakson yang sahut menyahut pun didengarnya sebagai suatu nyanyian indah. Hari itu adalah hari yang membawa harapan baru baginya.

Tidak berapa lama kemudian sampailah ia di kantor majalah 'Hari Cerah'. Disapanya setiap orang yang dilihatnya, dienyuminya mereka. Dengan wajah berseri-seri, ia menaiki lift untuk sampai di ruangan seorang editor yang sering bekerja sama dengannya. Ditunggunya dengan sabar ketika lift mulai membuka dan kerumunan orang dari dalam lift berhamburan bagaikan ombak pasang yang menerjang. Nyaris tanpa memperhatikan jalan, ia berusaha merangsek masuk ke dalam lift. Sesampainya di dalam lift, barulah ia berhasil memusatkan perhatiannya kepada tombol yang ingin ditekannya, tombol yang akan membawa lift ini menuju sebuah masa depan indah yang baru baginya. Setelah selesai, ia mengedarkan pandangannya kesekelilingnya.

Ia sendirian di dalam lift itu. Tetapi Budi menjerit sekuat tenaga, menjerit seakan-akan rohnya dilepaskan dari tubuhnya, ketika ia menatap ke dinding lift itu. Di dinding lift yang dihiasi oleh kaca, seharusnya berdirilah wartawan Budi Harsono.

Tetapi yang dilihatnya tengah berdiri dan balas menatapnya di sana, adalah sebuah toilet....

~*~

Naskah wawancara tersebut tetap sampai ke si editor yang amat menghargai karya Budi, meskipun wartawan itu sendiri tidak pernah lagi menampakkan ujung rambutnya di kantor itu. Editor itu menemukan naskah wawancara tersebut di lantai lift, dengan tulisan tangan Budi yang besar-besar dan rapi. Lengkap dengan nama reporternya. Dan dari sana, naskah itu dicetak, diterbitkan sebagai judul utama majalah, dengan huruf-huruf besar dan mencolok, hasil dari sebuah strategi desain yang pasti akan langsung mendapatkan perhatian setiap mata yang sempat melihatnya, walaupun hanya dengan ujung mata. Nama wartawan Budi Harsono segera melonjak di media massa. Artikel itu tetap terkenal meskipun bertehun-tahun roda waktu bergulir. Dan si rumahnya, Setyo hanya mampu mendesah lirih.

"Sayang...sungguh sayang...Sebentar lagi dunia ini akan dipenuhi oleh toilet. Atau memang sudah?"

2 komentar:

lalilulelo mengatakan...

Peh,gw bingung,jdnya mksdnya stlh bca naskahnya Budi itu smw jd toilet?knp bs?bingung..

Aza mengatakan...

Hmm, maksudku sih karena di penjelasan awalnya, "Toilet adalah benda yang menelan begitu saja semua yang diberikan kepadanya" semua orang itu begitu saja membaca artikel itu, menerimanya begitu saja tanpa diseleksi lagi, kan? gitu sih~