Rabu, 17 September 2008

Ikhlas

Tumben sempet posting cepet. Hari ini nggak tarawih, batuk lagi, hehe.

Yah, tadi pagi sempet ngebahas sedikit soal ikhlas. Sekarang baru deh, bakal kuceritain selengkapnya.

Kejadian bermula di hari Selasa yang cerah. Waktu itu anak-anak OSIS lagi ngumpulin uang sumbangan untuk disumbangkan pada anak yatim. Terus, dibacain deh, berapa perolehan sumbangan kita kemarin. Waktu dibacain sih, jumlahnya ya...nggak besar-besar amat, sekitar empat puluh ribuan, tapi pas lah dengan kondisi kelas kita yang beranggotakan 40 orang.
Namun, guru yang mengajar kita waktu itu mengomentari begini (kira-kira aja, udah rada lupa persisnya gimana), "kok cuma segitu? kalian ada empat puluh orang, kan?" Lantas beliau membandingkan jumlah yang kami dapat dengan kelas X aksel, yang jumlahnya mencapai lima puluh ribuan, meskipun jumlah anak aksel hanya sekitar separuh dari jumlah kita.
Seorang teman berkomentar," Kan yang penting ikhlas, Pak. Ikhlas kan nggak diukur dari jumlah". Ada benarnya, tapi mari kita simak lebih lanjut.
Kemudian setelah kami selesai menyumbang, beliau meneruskan topik yang tadi.
" Kita harus berhati hati dalam mengatakan ikhlas. Hati-hati, jangan sampai kalimat yang kita ucapkan 'yang penting ikhlas' menjadi bukti ketidakikhlasan kita",.
Selanjutnya, beliau menerangkan bahwa, keikhlasan tidak hanya didasari pada niat semata, namun juga proporsi. Contohnya, jika kita memiliki uang sejumlah seratus ribu (bukan yang satu lembar), apakah bila kita menyumbang sebesar seratus rupiah dapat dikatakan ikhlas?
Yah, yang kuinget masih sebatas itu saja. Kalau ada lagi, pasti langsung diedit

Note: Setelah hari itu, sumbangan kita langsung naik dua kali lipat, lebih malah. Hehe :D

Indonesia...Sebegitu miskinnya?

Nih template masih nggak beres-beres juga. Yah, udah lama nggak posting, ini juga rada telat. Kemarin baru denger berita soal pembagian zakat di Pasuruan yang berakibat melayangnya 21 nyawa. Udah pada denger kan?
Yang lebih parah lagi, semua itu 'hanya' untuk mendapatkan uang sebesar Rp 30.000! Oke, mungkin walaupun kita tetap menulis dengan angka yang sama, tetapi nilai uang itu mungkin berbeda bagi masing-masing kita. Buatku sendiri, jumlah itu adalah jumlah yang pertengahan, maksudnya aku nggak menganggap jumlah uang segitu adalah jumlah yang nggak berarti, yang bisa didapat dengan sekejap mata Tapi juga bukan sesuatu yang bisa ditukar dengan nyawa. Dan mungkin ada orang yang melihat jumlah uang tersebut dengan nilai di atasku maupun di bawah standarku.
Tapi, aku yakin kita sepakat akan satu hal: Apakah uang cukup sebagai pengganti nyawa?
Itu pertanyaan pertama. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya, seperti ada seberapa banyak orang miskin di Indonesia ini? Dan seberapa miskin? Seberapa standar miskin itu? Seberapa standar 'cukup' itu? Apakah pembagian zakat harus dilakukan dengan cara seperti itu? Dan sebagainya.



Mungkin, untuk saat ini, aku masih belum bisa benar-benar mengerti, apa arti uang itu sendiri, dan seberapa nilainya. Nilai uang itu...pasti berbeda untuk tiap-tiap orang, dan karena itu, seberapapun yang kita beri, itu mungkin akan berarti bagi orang yang berbeda. (inget pelajaran ikhlas yang baru diberikan seorang guru kemarin, mungkin pulang sekolah nanti bari bakal kutulis).

Jumat, 08 Agustus 2008

Teman

"Berteman itu enak, lho!". Kalimat itu dilontarkan oleh salah satu teman sekelas ditengah pelajaran bahasa Indonesia. Itu kenangan nomor satu dari masa kelas X. Apa sih awal-awalnya? kok dia sempet-sempetnya nanya gitu?
Waktu itu, masih sekitar dua setengah bulanan masuk SMA 81 ini. Memang sih, aku tergolong orang yang masa beradaptasinya lama. So, walau dua bulan udah berlalu pun, masih belum ada orang yang bener bener akrab sama aku.
"Emangnya lo nggak pernah ngerasa sendirian , ya?". Langsung, aku ngerasa seakan ditusuk dari belakang.
Seseorang pernah ngomong, kalo dia phobia sendirian. Dalam hati, aku setuju. Kesendirian itu bener bener sesuatu yang pantes buat ditakuti. Ngerasa sendirian secara hati, terutama. Selama masih ada orang -orang yang ada di hati kita, kita akan sanggup bertahan walaupun secara fisik kita sendiri. Aku tahu betul, karena aku sendiri pernah bener-bener ngerasa sendirian secara hati. Waktu-waktu itu, bener-bener nyiksa, dan cara aku bisa tetep bertahan adalah dengan tetap bilang pada diriku sendiri, tinggal tiga hari lagi, tinggal dua hari lagi, tinggal satu hari lagi, besok semuanya selesai...
Disaat itu, kita bener-bener butuh teman, butuh seseorang untuk mengisi relung-relung jiwa, untuk menjaga agar hati kita tidak hampa. Di saat itu, baru bener bener kerasa gimana kita menyayangi teman kita.
Lalu, teman itu apa?
Sulit juga menjawab pertanyaan ini. Banyak definisi tentang teman itu sendiri. Tapi, menurutku sendiri, hal-hal yang kurasakan selama aku berada didekat teman-temanku, adalah kenyamanan. Baik ketika bicara maupun tidak. Buatku, teman adalah seseorang yang aku bisa berjalan bersamanya dalam diam tanpa perlu merasa canggung. Orang yang akan membuatku tersenyum hanya dengan mengucapkan beberapa kata disaat aku benar-benar khawatir. Orang yang dengan berhati-hati akan menyampaikan pendapatnya tentang diriku dan memberikan solusi semampunya tentang masalah yang kuhadapi. Orang yang bersamanya aku bisa dengan tenang berjalan dan bicara, walaupun orang lain menatapku aneh. Orang yang aku bisa mempercayakan sebagian perasaanku padanya, karena aku tahu aku akan sanggup untuk berterima kasih dan meminta maaf padanya. Orang yang mampu mengeluarkan pribadi asliku bahkan disaat aku menutup diri. Orang yang sedikitnya tahu tentang diriku. Orang yang aku ingin berguna baginya. Orang yang ingin selalu kulindungi dan kudoakan. Orang yang kusayangi, kuhormati, dan kukagumi. Orang yang berharga bagiku.

.....Hitotsu hitotsu dakishime nagara egao ni kaeru yo.....
.....Yasashii, kimi no koko de deaeta, hanaretakunai yo.....


To all my friends, I love you!!!