Minggu, 12 April 2009
Rasa
1. tanggapan indra thd rangsangan saraf, spt manis, pahit, masam thd indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri thd indra perasa
2. apa yg dialami oleh badan
3. sifat rasa suatu benda
4. tanggapan hati thd sesuatu (indra)
5. pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar
Poin pertama, udah jelas kan? Manis, asam, asin, pahit, pedas, getir, sakit, perih, panas, dingin, hangat, sejuk, dan masih banyak lagi.
Poin kedua, ini juga cukup jelas. Sakit, nyeri, pedih, tertekan (oke, ini semua secara harfiah, ya), panas, dingin, dll.
Poin ketiga juga gampang, gula yang manis, garam yang asin, cabe yang pedas, dll.
Poin keempat. Takut, sedih, bimbang, bahagia, cinta, sakit, perih, marah, frustasi, tertekan, pahit, getir, dll. Kalau kita lihat dari poin-poin sebelumnya, kata-kata di poin keempat ini banyak juga di sebut di tiga poin sebelumnya. Contohnya manis, asam, pahit, getir, pedas, panas, sakit, pedih, tertekan, dingin, hangat, sejuk dll. Rasa-rasa yang kita sudah tahu dengan pasti ketika kita menghadapi rasa itu di poin keempat ini, ketika kita menghadapi rasa itu dengan hati.
Ada beberapa yang bisa kita coret dari daftar sebelumnya, yaitu manis, asam, asin, pahit, getir, dan pedas. Kenapa? Karena kata asin (yang termasuk bersama lima kata barusan dalam poin pertama dan ketiga) tidak termasuk dalam kata yang biasa dipakai untuk mendeskripsikan suasana hati (ketika mendengar, melihat, ataupun merasakan sesuatu). Nggak ada kan, yang ngomong, "Lo asin banget sih," atau "Rasanya asin banget tau, dikhianatin kayak gitu," atau "Wajahnya kelihatan sangat asin ketika mendengar kabar itu."
Dari eliminasi di atas, kata yang tersisa di poin-poin lain hanya panas, sakit, pedih, tetekan, dingin, hangat, dan sejuk. Kata yang lainnya? Abstrak.
Bagaimana rasanya kebahagiaan? bagaimana rasanya cinta? bagaimana rasanya percaya? Bagaimana rasanya benci? Bagaimana rasanya frustasi? Bagaimana rasanya kecewa?
Seandainya ada orang yang mengerti rasa-rasa tersebut, ia tidak akan bisa memberitahukan artinya kepada orang lain. Tubuh kita tidak bisa merasakan rasa-rasa itu, tidak seperti sakit, pedih, nyeri, panas, hangat, dingin, sejuk, dan lain-lain. Lalu, bagaimana kita bisa tahu rasa apa yang kita alami saat ini? apakah rasa itu bahagia, frustasi, benci, cinta, kecewa, dll? Bagaimana kita bisa tahu kalau tidak ada deskripsi yang jelas tentang rasa-rasa ini?
Orang bisa saja bilang, "frustasi itu kamu sedang sedih luar biasa," Apa itu sedih? Atau, " Cinta itu adalah kebahagiaan yang kamu rasakan dengan seseorang," Apa itu bahagia? "Benci itu adalah ketika kamu tidak suka pada seseorang," Apa itu suka? "Sayang itu adalah ketika kamu mempercayai seseorang," Apa itu percaya?
Gimana kita bisa tahu?
Poin kelima, baik dan buruk, salah dan benar. Apakah ada sesuatu yang benar-benar salah atau benar, sesuatu yang mutlak baik dan buruk, di dunia ini?
Oke, mungkin ada yang bilang, "Baik dan buruk itu berdasarkan ajaran agama," Tapi bahkan agama pun selalu memberikan toleransi untuk alasan-alasan tertentu. Dan itulah yang tidak pernah kita ketahui. Bahwa ada alasan di balik nyaris segala sesuatu. Ada yang disebut prima klausa. Sebab akibat. Segala tindakan ada sebabnya. Segala gerakan ada sebabnya. Segala perasaan ada alasannya.
Kita bisa saja menuduh seorang pencuri itu salah, menggebukinya sampai meninggal, dan lain-lain. Dan saat itu kita beralasan, "Mencuri itu kan salah. Ada dalam agama," Apakah membunuh itu benar? Lagipula, ada hukum dalam agama yang menyatakan tidak apa-apa mencuri hanya ketika kelaparan, dan mencuri itu pun hanya boleh secukupnya. Dalam kasus ini, yang salah adalah tetangga-tetangga terdekatnya, yang membiarkannya kelaparan. Tapi, mungkin saja tetangganya sendiri juga kelaparan. Mungkin.
Kita bisa saja menuduh seseorang itu buruk, ketika ia memukul seseorang lainnya. Padahal ia memukul supaya orang yang dipukulnya itu menjadi lebih baik. Kita bisa menuduh seseorang salah, ketika ia marah. Padahal ia marah demi kebaikan orang yang dimarahinya. Kita bisa saja menuduh orang lain salah, ketika ia membicarakan orang lain dibelakang. Padahal mungkin ia sedang berusaha mencari pendapat supaya bisa memberi masukan pada orang itu. Kita bisa saja memuji orang yang bersedekah, padahal sedekahnya itu dilakukan atas dasar riya dan mengurangi rasa bersalahnya telah mengeruk uang negara. Kita bisa saja melakukan hal-hal itu.
Kita tidak pernah tahu apa alasan orang melakukan hal tertentu. Dan dibalik alasan itu, selalua da alsan lain. Tidak ada perbuatan tidak beralasan di dunia ini. Tapi, yang menyebabkan kita bisa menilai sesuatu adalah karena kita tidak mengerti alasan itu. Dan sesungguhnya, tidak ada orang yang berhak untuk mengatakan 'mengerti' keadaan orang lain. Tidak ada. Bahkan orang yang paling dekat pun tidak berhak mengatakan bahwa ia 'mengerti'. Kalau memang mau mengerti seseorang, tetaplah ada di dekatnya,awasi semua gerakannya, pandangannya, ucapannya, apa yang didengarnya, dan lain-lain. Karena bahkan satu kedipan mata, satu helaan nafas yang paling lirih pun dapat membuat perubahan besar pada dunia. Dan ketika sudah berubah, tidak akan ada yang pernah kembali sama. Dan tidak mungkin lagi bagi kita untuk mengerti. (Jadi, jangan pernah minta untuk dimengerti, karena itu percuma)
Sampai saat ini, aku sendiri belum bisa mengerti dua poin terakhir ini. Mungkin nanti, ya, nanti. Saat dimana aku bisa mengetahui alasan-alasan itu. Mungkin ada yang bisa memberitahu?
Senin, 06 April 2009
Sedikit Perubahan
Oh ya, header kali ini adalah Yamamoto dari Katekyo Hitman Reborn!. Dan kali ini ada kuisnya. Cari sepuluh perbedaan dari gambar di atas dengan yang ini. Hehehehe... pertama kali liat aku langsung kaget, dan langsung ketawa juga. Untung nggak jadi ilfil sama Yamamoto...kayak waktu aku ilfil ngeliat Saber dan Kurapika gara-gara sebuah lomba cosplay.
Terakhir, doakan semoga perubahan-perubahan pada template ini cepat selesai!!! Kayaknya masih banyak yang harus diedit lagi
Sabtu, 14 Maret 2009
Nggak tau apa lagi yang mau dikerjain...
Your view on yourself:
Other people find you very interesting, but you are really hiding your true self. Your friends love you because you are a good listener. They'll probably still love you if you learn to be yourself with them.The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:
You like serious, smart and determined people. You don't judge a book by its cover, so good-looking people aren't necessarily your style. This makes you an attractive person in many people's eyes.Your readiness to commit to a relationship:
You prefer to get to know a person very well before deciding whether you will commit to the relationship.The seriousness of your love:
You are very serious about relationships and aren't interested in wasting time with people you don't really like. If you meet the right person, you will fall deeply and beautifully in love.Your views on education
Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can.The right job for you:
You have plenty of dream jobs but have little chance of doing any of them if you don't focus on something in particular. You need to choose something and go for it to be happy and achieve success.How do you view success:
Success in your career is not the most important thing in life. You are content with what you have and think that being with someone you love is more than spending all of your precious time just working.What are you most afraid of:
You are afraid of having no one to rely on in times of trouble. You don't ever want to be unable to take care of yourself. Independence is important to you.Who is your true self:
You are mature, reasonable, honest and give good advice. People ask for your comments on all sorts of different issues. Sometimes you might find yourself in a dilemma when trapped with a problem, which your heart rather than your head needs to solve.Dan sesuatu yang lain, tentang hari ini:
Ah, from the town I was born and grew up where cultivated my reckless zeal,
When every time things doesn't go my way I couldn’t believe myself
Somehow or the other I just stopped caring
And skipped out on this morning
By making an obvious excuse,
I just became more depressed.
Just like always,
When I turn that corner,
I merge into a wave of people
And just disappear
Smeared with discouragement and lost in fads
I pretend to be happy as I sing
“Run further” I’m urging myself, thoughtlessly also softly to where the wind is blowing
I lose my way completely,
And can find no words to say
If you call the soil treaded upon, a road
Then is even closing your eyes love?
If you call letters that start to talk, a novel
Then are words that don’t reach, a dream?
If it’s an illusion, then I’ll love the illusion
And I can even throw it away tomorrow
Tell me a reason to fear it
Timidness, bluffing, and the things that I protected obstruct me
And I can't even take a single step forward, tomorrow is scary
Is it okay to not be strong enough? Is that okay?
If these dull emotions could just
Disappear sooner without a word
It would have been easier
Everyone says, “Grow up”
Forget about the dreams that even I can’t see for myself
It’s as if I’ve gotten the habit of saying, “Sorry”
Enough with the excuses, I really have to go
But it's still just as good...
Basking in the light of the moon, taking a deep breath
In a world where there’s no yelling voice or sound of the plates breaking
Without sharing warmth, life can continue
However, just living is not enough for us
I keep it in my mind, I want to be strong now
Even if more breakups are to come…
Even when I fall down and cry, I’ve come to feel that everything has a reason.
Rabu, 25 Februari 2009
Kesalahan Turun Temurun
Renungan: PERHITUNGAN YANG
KELIRU
Silakan baca dulu, deh:Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK
akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis
pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara
langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya
menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang
bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100
gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan,
teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara
menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.
Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar
Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan
berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang
berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal
ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan
ukur di Indonesia , yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir.
Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen
100 gram.
Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem
Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia . Untuk
ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons
bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan
memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan
semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1
pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang
legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya
setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia
internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia
.
Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.
Sampai kapan mau dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di
bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata,
kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh
karena akan menyesatkan.
Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana
penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah
dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid
(anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh
memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1
pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan
sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak
usia dini.
Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan
yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia
mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru
untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau
memberi-kan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan
kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama
kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya
agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;
"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui /
diberlakukan secara internasional , yang menyatakan bahwa :
1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?
Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini
diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?
Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain
Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?
Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku
pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?
Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini,
sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang
pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya
ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas)..
Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum
diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia
yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound
(Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini
dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ?
Siapa yang mau pakai ?.
HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang
merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih
banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar.
Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan
resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesala
hannya.
Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan
masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera
dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis
mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan
anak-anak Indonesia . Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu
memperbaiki kesalahan.
Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal
Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi
sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia . Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat
Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu
anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti
landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar
ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan
upaya yang sangat berat.
Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal
menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti
aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional,
bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat
pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar
negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar
sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan
penuh dengan tantangan berat.
ACUAN MANA YANG BENAR ?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik,
dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford , dll. (maaf, ini
bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu
diragukan lagi.
Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat
dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang
biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.
Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)
1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)
1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep
obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram.
Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang
mengajarkan. (ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa
ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali
terjadi)
KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang
tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan
"ons dan pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran
sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai
pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang
benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam
kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita,
generasi penerus bangsa ini.
Untungnya orang itu bekerja di bidang pengolahan limbah :p Coba kalau sebagai apoteker.
Oh, dan sedikit pelajaran minggu ini:
Jangan mulai menyalahkan orang lain kalau tidak mau disalahkan. Karena manusia akan mulai mempertahankan dirinya pada saat mereka disalahkan. Dan, tahu nggak apa cara yang paling cepat untuk mempertahankan diri saat disalahkan? Yap, menyalahkan orang lain. Membalikkan. Kadang, kita justru lebih baik meninggalkan orang itu dalam diam, jadi mereka bakal ngerasa bersalah dengan sendirinya.
Kamis, 19 Februari 2009
Rantai
Yah, aku selama ini selalu percaya dengan yang namanya timbal balik. Nggak ada sesuatu yang bisa disebut kebetulan. Yang ada hanya satu kejadian yang berkaitan dengan yang lainnya. kejadian yang memang harus terjadi, bukan karena kebetulan terjadi. Kejadian yang ada karena sesuatu yang kita pilih. Kejadian yang merupakan hasil dari sebuah pilihan
Jadi diulang, kan. Meskipun dengan kalimat yang beda.
Oke, jadi ada yang dinamakan rantai. Roda. Efek. Timbal balik. Makan dan dimakan (lho?). Tapi itu bener.
Jadi lupa mau nulis apa, kan. Oh iya.
Akhir-akhir ini aku sedang amat sangat, banget, atau apalah kata yang berfungsi untuk menguatkan kata lainnya itu - labil.
Tahu apa yang kulakukan salah, tapi nggak ada usaha untuk menghentikan itu. Tahu tindakanku kekanak-kanakan, tapi masa bodo dengan itu. Tahu aku nggak usaha, tapi nggak memperbaiki. Tahu kalau ada sesuatu yang beda, tahu apa yang salah, tapi tetep - diam. Ya, diam.
Atau cuek? Atau terlalu malas?
no 1: Efek
Semuanya berbalik ke diriku sendiri. Semuanya. Kenapa?
no 2: Rantai
Kubalikkan lagi ke yang lain. Atau kudiamkan. dua-duanya sama saja, membentuk rantai. Nggak akan putus sebelum aku yang mencoba memutuskannya. Nggak peduli. Masih senang disakiti dan menyakiti. Masih manusia.
no 3: Makan dan dimakan
Makan hati orang lain, dan dimakan hatinya oleh orang lain. Bodo amat
no 4: Roda
Harus tetep jalan, meskipun berputar-putar di tempat yang sama. Kenapa?
no 5: Timbal balik
Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. Masa?
Nggak adil. Kenapa kita mesti terus-terusan nyoba untuk mendengarkan, padahal belum tentu ada yang mendengarkan kita? kenapa sekalinya kita nggak mendengarkan malah dicap sombong, nggak tahu adat, dll? Kenapa harus peduli? Kenapa harus peduli kalau nggak yakin ada yang lain di muka bumi ini yang peduli? Kenapa harus menunggu kalau nggak ada yang menunggu? Kenapa, sekali saja kita ngelepasin usaha-usaha itu, semuanya menjauh? Kenapa orang lain bisa bebas melepaskan usaha itu dan tetap dekat? Kenapa?
Kenapa, mengapa, kamana? kemana rantai itu? Kemana roda itu? Kemana mangsa-mangsa itu? Kemana? Mati kelaparan? Atau juga dimakan oleh predator-predator itu?
Jadi inget, ada satu kalimat yang aku suka banget dari sebuah buku. Udah lupa judulnya, kalo nggak salah sih Billy 24 wajah atau apa... gitu. Kalimatnya kayak gini:
'Dunia tanpa rasa sakit adalah dunia tanpa perasaan, tapi dunia tanpa perasaan adalah dunia tanpa rasa sakit'
Apa perlu membuang semua perasaan untuk nggak merasa sakit? Ya. Paling nggak, aku tahu itu.
Postingan yang ditulis dengan bahasa acak-acakan.
Sedikit tambahan yang sama sekali nggak berkaitan dengan di atas, aku lagi benci banget dengerin Bella's Lullaby. Bawaannya pengen nimpukin sesuatu terus-terusan. Jadinya selalu kulewatin kalo lagi dengerin playlist instrument. Lagi seneng Kizuna dan La Sola, biar sekalian depresi.
Selasa, 17 Februari 2009
Tiga Hari (penutup)
Tiga hari
Bagai sekerdipan mata
Tapi, hei, lihat!
Getaran dan kepalan itu sudah pergi
Bahkan mata yang perih pun tak ada lagi
Tak ada yang perlu dikatakan lagi.
Walau hanya 12, kami menyelesaikannya
Walau hanya tiga hari, kami memuaskannya
Walau hanya 12, kami berani mengatakan kalimat
Kerja kami terbayar
Kamis, 12 Februari 2009
Tiga Hari (pembuka)
Ya, hanya tiga hari
Dua bulan
Atau nyaris dua bulan
Untuk tiga hari
Tiga hari
Yang diharapkan
Semoga, terus, untuk selamanya
Tiga hari
35 anak panah
Menuju 9 sasaran
Dengan beberapa* busur
Melihat ke satu arah
Dengan wajah terpaling
Bukan, bukan terpaling,
hanya sekilas menoleh
pada tiga hari lainnya
Tidak, tak ada lagi bayang sesal pada kami
Bahkan bila tiga hari ini masih sama dengan yang lalu
Tiga hari yang telah lalu
Tetap, hati masih tertinggal di sana
Bahkan hal-hal yang kami buat sama
Sudah, jangan tertawa atau tersenyum lagi
Kalau mata sudah terasa pedih
Baik, carilah obat mata
Biar dapat sembunyikan tangis dalam tawa
Sisir rambutmu
Simpan kepal tanganmu
Tegapkan bahumu,
jangan biarkan satu getar pun tampak
Setidaknya, sampai jadi tiga hari
Setelah itu, kita lihat lagi
Senin, 26 Januari 2009
Soundtrack of My Life...
Pengen ngerjain aja, nggak tau kenapa.
rules: buka playlist lo, shuffle the playlist dan isi lagu yang muncul sesuai dengan nomor yang dibawah, berurutan, nggak boleh enggak
1. OPENING CREDIT
Kazemachi Jet- Maaya Sakamoto (bolehlah…)
2. WAKING UP
My Will-Dream (Duh, pagi-pagi udah mikir gitu aja, sih…)
3. FIRST DAY AT SCHOOL
Haruka Kanata- Asian Kung-fu Generation (Hari pertama yang sangat semangat dan penuh perjuangan )
4. FALLING IN LOVE
Sanctuary-Utada Hikaru (bisa diterima)
5. "THE RELATIONSHIP"
Split- Suneohair (very nice song! Dan cocok sampai saat ini )
6. BREAKING UP
Going- Yoshida Jungo (Lagu yang sangat optimis untuk situasi ini)
7. PROM
One day one dream- Tackey & Tsubasa (…)
8. LIFE
D-tecnolife- UVERworld (Oke…jalani aja hidup ini, jangan patah semangat, ya
9. MENTAL BREAKDOWN
Hikari E- The Babystars (Langsung bangkit dan introspeksi diri )
10. DRIVING
Purachina- Maaya Sakamoto (…bahaya nih kalo buat nyetir…'aku seorang pemimpi'…)
11. FLASH BACK
Karinui- Mamiko Noto (kayaknya nggak sesuram itu deh, tapi bolehlah…)
12. GETTING BACK TOGETHER
First Love- Utada Hikaru (berharap, btw, who’s my first love?)
13. MARRIED
Cacth You Catch Me- Gumi (Kyaa! Ngepas banget, ceria, dan optimis…Ko-i-shi-te-ru)
14. BIRTH OF CHILD
Ne, Nande…-Yoshizawa Rie (hiks…nggak dapet terjemahannya di mana-mana…)
15. FINAL
Life is Like a Boat- Rie Fu (nice song…liriknya juga oke)
16. DEATH SCENE
Kaze no Uta- Minako Honda (pas banget…lagu tentang perpisahan banget)
17. FUNERAL SONG
Every Heart- BoA ( ‘Suatu hari, setiap jiwa akan menemukan tempatnya masing-masing’ hehehe)
18. END CREDIT
Nakushita Kotoba- No Regret Life (a very sad song, but it’s also very sweet…)
Rabu, 07 Januari 2009
Feminin / Maskulin?
1. Are you masculine or feminine
You Are 47% Feminine, 53% Masculine |
You are in touch with both your feminine and masculine sides. You're sensitive at the right times, but you don't let your emotions overwhelm you. You're not a eunuch, just the best of both genders. |
2. How Boyish or Girlish are you
You Are 50% Boyish and 50% Girlish |
You are pretty evenly split down the middle - a total eunuch. Okay, kidding about the eunuch part. But you do get along with both sexes. You reject traditional gender roles. However, you don't actively fight them. You're just you. You don't try to be what people expect you to be. |
3. How girly are you
You Are 16% Girly |
Um... you're a guy, right? If not, you're the most boyish girl in the world. And for you, that's probably the ultimate compliment. |
4. Do you communicate like a man or a woman
You Communicate Like a Man |
When you communicate, you like to get to the point. You're not afraid to say what's on your mind - and leave it at that. Talking about your emotions drains you. You rather keep them to yourself. You prefer solving problems to wallowing in your sorrows. |
5. Do you use the internet like a woman or a man
Your Surfing Habits are 50% Male, 50% Female |
There's no way we can tell whether you're a man or woman. Of all the internet users, you are the most broad based in your habits. You use the internet for research and your career. But you also use the internet to keep in close touch with your loved ones. |
Ahirnya, ada juga yang bener:
6. What gender is your brain
Your Brain is 67% Female, 33% Male |
Your brain leans female You think with your heart, not your head Sweet and considerate, you are a giver But you're tough enough not to let anyone take advantage of you! |
Yaaa... kadang aku ngerasa kayaknya aku ngelakuin hal-hal yang cewek biasanya akan ngehindarin (bukan yang aneh-aneh, tenang aja). Dan akhir-akhir ini aku juga jadi mikir, aku bukan orang yang feminin, ya. Maksudku, dari dulu aku bukan orang yang terlalu feminin, tapi nggak pernah sampai separah ini. (>_<)a . Ada untungnya juga sih, aku bisa ngerti dari dua pihak lebih cepet daripada cewek/cowok biasa.
Minggu, 28 Desember 2008
Liburan Yang Tidak Seperti Liburan
Jadi panitia buat I'm Nature dan Maulid. Sori, detail kegiatannya masih rahasia (apaan, sih! bilang aja kalo emang belom jelas!). Ya, ya, ya. Beginilah tahun kedua di SMA itu (lihat profil). Belum lagi J-club (Dhanee, maaf nggak bisa bantu banyak), belum lagi Pidas (sampe sekarang masi nggak tau mau ada kegiatan apa nggak), belum lagi kelas (spanduk udah selesai, alhamdulillah, bazar Utie yang ngurus, tinggal karnaval aja yang belum jelas). Sori garcen, sampe saat ini belum bisa ngeluangin waktu buat kalian. Kalo mau jalan, jalan aja. Kalo nungguin, ntar tambah lama lagi. Bukan berarti aku nggak mau ngarang bareng kalian lagi. Cuma jadi nggak enak kalo aku terus-terusan ngalangin. Gimana kalo netapin tanggal aja? Ntar aku tinggal liat bisa di luangin apa nggak hari itu.
Akhir akhir ini juga lagi baca 20 th Century Boys. Keren banget tuh manga. Dan aku mesti nahan diri mati-matian supaya nggak ngefans sama Kanna. Dia itu bener-bener manusia yang bisa disebut 'perempuan'. Cewek yang kuat, nggak hanya secara fisik, tapi juga mental (awas, mental di sini bukan berarti kemampuannya membengkokkan sendok itu. Yang kumaksud itu adalah kemampuannya untuk menggerakkan hati orang-orang, dan lain-lain yang sejenis). Tapi, biarpun dia kuat, dia tetep cewek...ngerti kan yang kumaksud? Gara-gara itu, aku jadi seneng banget sama Honoho-nya Spitz. Biar cuma insert song, ternyata lumayan juga. Dan aku dengerin lagu itu sambil ngebayangin Kenji yang mainin lagu itu. Sekarang kayaknya lagu itu jadi pengingat akan 20 th Century Boys (ini pasti gara-gara aku terus-terusan dengerin lagu ini sambil baca 20 th Century Boys). Padahal itu kan OST Honey & Clover. Tapi melodinya enak buat pendamping suasana 20 th Century Boys. Hmmm...
Udah ah, ini udah ngantuk banget, besok juga masih ada rapat. Mesti presentasi perkembangan pula. Oh ya, sebelum lupa, aku mau ngucapin sesuatu. Makasih, buat orang-orang yang udah ngasih aku kepercayaan. Dan, maaf, kalo aku pernah mengkhianati kepercayaan yang kalian berikan itu. (terinspirasi dari kejadian hari ini dan kejadian hari-hari yang lalu yang akhir-akhir ini kupikirin. Beneran mesti ngurangin mikirin kayak gini nih. Nyita waktu dan pikiran banget)
Oh, ada yang lupa. Ada satu hal yang kupertanyakan begitu ngeliat Kanna versi remajanya. Kok mirip banget sama Kanmuri dari Yakitate! Japan, ya?
Kamis, 18 Desember 2008
Capek
Capek kata-kataku terus-terusan disalah artikan.
Capek terus-terusan percaya, dan akhirnya dikhianati.
Capek terus-terusan berharap, dan akhirnya dikecewakan.
Capek terus-terusan bersikap optimis, dan akhirnya tersapu oleh sikap pesimis orang lain.
Capek untuk berjuang dan tidak dihargai.
Capek untuk terbuka pada orang lain.
Capek untuk ngomong langsung.
Capek untuk ngomentarin
Capek untuk dikomentarin.
Capek terus-terusan disalahkan
Capek untuk berpandangan positif dan langsung dipatahkan oleh pandangan negatif.
Capek terus-terusan mengingatkan
Capek untuk percaya sama orang lain.
Udah, ah. Capek buat nulis lagi.
Rabu, 17 Desember 2008
Merasa Terlalu Banyak Tahu
Tahu kan, kalo yang namanya cewek itu pasti bakal cerita berbagai hal kepada temannya, atau orang yang ia percayai. Aku juga gitu, sih. Tapi, efek dari kebiasaan ini adalah aku jadi 'terlalu banyak tahu'. Mungkin orang, atau sesuatu yang aku ketahui itu akan kaget bahwa aku ternyata tahu sebanyak itu tentang sekitarnya. Sebenarnya bukan mungkin lagi sih, soalnya pernah ada kejadian kayak gitu. Ada orang yang kaget banget saat dia tahu kalo ternyata aku tahu apa yang dia pikir aku nggak tahu.
Yah, mungkin ada yang bakal bilang, "Nggak apa-apalah! Toh loe nggak cerita ke siapa-siapa, kan?" Memang, sih...kecuali aku perlu ngomong, aku nggak bakal cerita-cerita ke orang lain. Tapi bukan itu masalahnya.
Masalahnya adalah, aku jadi nggak bisa ngelakuin apa-apa! Aku nggak bisa ngomong sama orangnya langsung, karena seharusnya aku berada dalam kondisi 'tidak tahu'. Dan itu rada nyebelin...terutama kalo yang kita ketahui adalah saat temen kita ada dalam masalah, dan kita jadi nggak bisa ngelakuin apa-apa untuk mereka...geregetan banget, nggak sih? Tapi, seenggaknya aku bisa ada untuk dia, meskipun hanya aku cuma bisa memberi saran atau bahkan tepukan di bahu atau punggung...(hehe, yang ini sering banget, nih) Tapi, aku percaya kok...bahwa manusia itu pasti bisa melalui masalahnya, dengan berusaha.
Mungkin aku mesti ngurangin mikirin orang lain...kadang kayaknya aku terlalu mikirin gimana perasaan orang lain atau gimana pendapat orang lain...dan kayaknya tanpa sadar itu ngebebanin aku juga...Aku jadi gampang terpengaruh sama yang namanya empati...Dan jadi terlalu banyak waktu terbuang buat mikir...Belum lagi terkesan plin-plan...Justru jadi nggak aktif, kan?
Tapi, manusia itu makhluk sosial! (Inget postingan tentang egois) Dan kalau aku nggak mikirin orang lain, pasti bakal ada orang yang bilang,"Loe nggak merhatiin perasaan orang lain, sih!" atau," Loe nggak liat-liat keadaan dulu, sih!" Hahaha, serba salah memang manusia itu. Jadi mesti gimana? Begini salah, begitu salah...
Balik lagi ke topik. Soal terlalu banyak tahu, mungkin ini juga yang dinamakan 'intuisi cewek', ya nggak sih? Kan katanya cewek itu mengumpulkan banyak informasi, dan pada suatu kejadian tertentu, informasi-informasi itu membentuk sebuah kesatuan, sehingga cewek bisa memperkirakan apa yang akan terjadi dengan tepat, paling nggak punya perasaanlah...
Jadi, kesimpulannya apa? Hahaha, postingan paling nggak jelas kayaknya...
Jumat, 05 Desember 2008
Selesaiiii!! + Foto Drama

Ujian Blok, selesai! Kartul, selesai, Idul Adha, tinggal pelaksanaan!!! Horeee!!!
Btw, aku nggak sempet cerita tentang drama, nih...huuh...kebanyakan tugas sampe lupa jalan ceritanya drama...Kalo mau liat, liat di blognya Bianca aja. Ada linknya tuh di samping.
Btw, ini foto yang kita ambil sebelum drama.
Jadi inget, kita mati-matian ngumpetin San Chai ama Geng Pinky sebelum drama. Eh, di foto itu ada yang nggak keambil fotonya. Istri-istrinya Dao Ming Tse nggak ada, hehe. Waktu itu aku ada disana, cuma nggak mau ikutan foto. Jadi berdiri di samping aja :p Nggak kenapa-napa, sih, cuma aku nggak begitu suka sama yang namanya foto. Kecuali untuk acara-acara penting, jarang-jarang aku mau foto. Apalagi kalo sendirian. Rasanya aneh aja, ngeliat ada diri kita di sehelai kertas sementara kita ada di sisi ini, di hadapan kertas itu.
Kamis, 04 Desember 2008
Ganti nama lagi....
Kaizenaza = Kaizen + Aza.
Kaizen itu artinya pengembangan diri, sedangkan AZA itu inisialku. Udah pada bisa memperkirakan maksudnya apa, kan? Yap, usaha untuk menjadi lebih baik, dan itu yang sekarang pengen kulakukan.
Jumat, 28 November 2008
Wanita Cantik
Wanita cantik melukis kekuatan melalui masalahnya
Tersenyum saat tertekan,
Tertawa saat hati menangis,
Memberkati disaat terhina,
Mempesona karena mengampuni.
Wanita cantik, mengasihi tanpa pamrih
Berkata kuat dalam doa dan pengharapan...
Aaah~~pengen banget jadi kayak gitu, doakan ya, semoga aku bisa jadi orang seperti itu. Jadi kuat tanpa harus menyalahi fitrahku.
Oh ya, semoga yang membaca postingan ini (kalau cewek, ya...:p)juga dikaruniai Allah kemampuan seperti itu...
AAAAHHH!!! seminggu lagi deadline KARTUL!!
Jumat, 21 November 2008
Sebuah Keraguan
Jadi inget waktu pertama kali dipilih jadi kaput. Sebelumnya calon yang lain pada bilang,"Udah, lo aja, deh" gitu. Tapi, aku nggak mau ngakuin itu, lagipula mereka itu (calon-calon yang lain) adalah orang-orang yang bener-bener berdedikasi sama Rohis. Waktu hasilnya diumumin, nyaris, aku nangis di depan mereka semua. Siapa lagi yang lebih tahu dariku tentang aku? Siapa lagi yang lebih tahu dariku bahwa aku nggak pantes buat ada di posisi itu? Aku sempet nolak, tapi ada kakak kelas yang bilang,"Dek, waktu Khalifah Umar dipilih jadi Khalifah, dia juga ngerasa nggak pantes untuk ngambil posisi itu. Tapi, karena itu hasil musyawarah, dia tetep melaksanakan jabatan itu". Mana bisa aku ngebantah yang kayak gitu? Alhasil, pulang dari LDKR, aku stress berat. Dan baru bisa bener-bener pulih tiga hari setelahnya (sakit juga, sih :p). Trus, menjelang masuk lagi setelah liburan, mulai cemas lagi. Tapi, alhamdulillah banget, aku dapet banyak banget dukungan dan bantuan dari rakan-rekan sekalian, juga dari senior-senior. Makasih banyaak!!
Trus, jadi sutradara di drama Kebon Meteor (hari Sabtu ini, lhooo!). Sering banget frustasi, beberapa kali meledak marah (maaf ya, semuanya! (-/\-)). Lagi-lagi, alhamdulillah, Ya Allah, Engkau sudah memberikan banyak teman yang baik untukku. Paling nggak kita bisa bekerja sama dengan baik, meskipun latihannya (woi! yang bener, dong!!) masih banyak yang asal-asalan. Maksudku, bukan berarti di antara kelompok kita sendiri sama sekali nggak ada masalah, tapi kurasa, kita berhasil menyingkirkan masalah itu untuk bisa bekerja sama dalam ini. Thanks to all of you, guys!
Dalam ngelaksanain semua itu, pasti ada satu titik yang bener-bener bikin aku depresi, dan semua itu sebabnya ya kalo bukan ketidakyakinanku pada diriku sendiri, ya berarti karena aku menyalahkan diriku sendiri atas apa yang terjadi. Dan itu semua, lagi-lagi, aku bersyukur banget, dan juga, makasih banyak untuk orang yang ngucapin ini, "Lo harus yakin sama diri lo sendiri, Fah! Kalo lo yakin lo bener, lo harus pertahanin keyakinan lo itu. Jangan nyerah gitu aja!" (BTW, bener nggak, sih? Dah rada lupa, tapi intinya begitu, kok). Dia ngucapin itu untuk hal lain, dimana (lagi-lagi) aku nggak yakin sama diriku sendiri. Tapi, kata-kata itu rasanya langsung nusuk ke hati, secara baru aja malemnya itu aku stress mikirin ini dan itu. Untung aku nggak sampe nangis lagi di depan dia. Udah berkaca-kaca, sih :p.
Kata-kata itu langsung nyadarin aku, bahwa ada orang lain yang berjuang demi aku, berjuang bersamaku, dan berjuang disisiku. Dan aku nggak boleh nyerah gitu aja. Paling nggak aku harus ngusahain yang terbaik, buat mereka, dan pastinya buatku sendiri. Karena, nggak ada yang bisa ngejalanin hidupku kecuali aku sendiri. Jadi, aku yang harus menentukan pilihanku. Baik itu berakibat baik atau buruk, aku juga harus siap untuk menanggung akibatnya sendiri.
Ayo berjuang!
Rabu, 17 September 2008
Ikhlas
Yah, tadi pagi sempet ngebahas sedikit soal ikhlas. Sekarang baru deh, bakal kuceritain selengkapnya.
Kejadian bermula di hari Selasa yang cerah. Waktu itu anak-anak OSIS lagi ngumpulin uang sumbangan untuk disumbangkan pada anak yatim. Terus, dibacain deh, berapa perolehan sumbangan kita kemarin. Waktu dibacain sih, jumlahnya ya...nggak besar-besar amat, sekitar empat puluh ribuan, tapi pas lah dengan kondisi kelas kita yang beranggotakan 40 orang.
Namun, guru yang mengajar kita waktu itu mengomentari begini (kira-kira aja, udah rada lupa persisnya gimana), "kok cuma segitu? kalian ada empat puluh orang, kan?" Lantas beliau membandingkan jumlah yang kami dapat dengan kelas X aksel, yang jumlahnya mencapai lima puluh ribuan, meskipun jumlah anak aksel hanya sekitar separuh dari jumlah kita.
Seorang teman berkomentar," Kan yang penting ikhlas, Pak. Ikhlas kan nggak diukur dari jumlah". Ada benarnya, tapi mari kita simak lebih lanjut.
Kemudian setelah kami selesai menyumbang, beliau meneruskan topik yang tadi.
" Kita harus berhati hati dalam mengatakan ikhlas. Hati-hati, jangan sampai kalimat yang kita ucapkan 'yang penting ikhlas' menjadi bukti ketidakikhlasan kita",.
Selanjutnya, beliau menerangkan bahwa, keikhlasan tidak hanya didasari pada niat semata, namun juga proporsi. Contohnya, jika kita memiliki uang sejumlah seratus ribu (bukan yang satu lembar), apakah bila kita menyumbang sebesar seratus rupiah dapat dikatakan ikhlas?
Yah, yang kuinget masih sebatas itu saja. Kalau ada lagi, pasti langsung diedit
Note: Setelah hari itu, sumbangan kita langsung naik dua kali lipat, lebih malah. Hehe :D
Indonesia...Sebegitu miskinnya?
Yang lebih parah lagi, semua itu 'hanya' untuk mendapatkan uang sebesar Rp 30.000! Oke, mungkin walaupun kita tetap menulis dengan angka yang sama, tetapi nilai uang itu mungkin berbeda bagi masing-masing kita. Buatku sendiri, jumlah itu adalah jumlah yang pertengahan, maksudnya aku nggak menganggap jumlah uang segitu adalah jumlah yang nggak berarti, yang bisa didapat dengan sekejap mata Tapi juga bukan sesuatu yang bisa ditukar dengan nyawa. Dan mungkin ada orang yang melihat jumlah uang tersebut dengan nilai di atasku maupun di bawah standarku.
Tapi, aku yakin kita sepakat akan satu hal: Apakah uang cukup sebagai pengganti nyawa?
Itu pertanyaan pertama. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya, seperti ada seberapa banyak orang miskin di Indonesia ini? Dan seberapa miskin? Seberapa standar miskin itu? Seberapa standar 'cukup' itu? Apakah pembagian zakat harus dilakukan dengan cara seperti itu? Dan sebagainya.
Mungkin, untuk saat ini, aku masih belum bisa benar-benar mengerti, apa arti uang itu sendiri, dan seberapa nilainya. Nilai uang itu...pasti berbeda untuk tiap-tiap orang, dan karena itu, seberapapun yang kita beri, itu mungkin akan berarti bagi orang yang berbeda. (inget pelajaran ikhlas yang baru diberikan seorang guru kemarin, mungkin pulang sekolah nanti bari bakal kutulis).
Jumat, 08 Agustus 2008
Teman
Waktu itu, masih sekitar dua setengah bulanan masuk SMA 81 ini. Memang sih, aku tergolong orang yang masa beradaptasinya lama. So, walau dua bulan udah berlalu pun, masih belum ada orang yang bener bener akrab sama aku.
"Emangnya lo nggak pernah ngerasa sendirian , ya?". Langsung, aku ngerasa seakan ditusuk dari belakang.
Seseorang pernah ngomong, kalo dia phobia sendirian. Dalam hati, aku setuju. Kesendirian itu bener bener sesuatu yang pantes buat ditakuti. Ngerasa sendirian secara hati, terutama. Selama masih ada orang -orang yang ada di hati kita, kita akan sanggup bertahan walaupun secara fisik kita sendiri. Aku tahu betul, karena aku sendiri pernah bener-bener ngerasa sendirian secara hati. Waktu-waktu itu, bener-bener nyiksa, dan cara aku bisa tetep bertahan adalah dengan tetap bilang pada diriku sendiri, tinggal tiga hari lagi, tinggal dua hari lagi, tinggal satu hari lagi, besok semuanya selesai...
Disaat itu, kita bener-bener butuh teman, butuh seseorang untuk mengisi relung-relung jiwa, untuk menjaga agar hati kita tidak hampa. Di saat itu, baru bener bener kerasa gimana kita menyayangi teman kita.
Lalu, teman itu apa?
Sulit juga menjawab pertanyaan ini. Banyak definisi tentang teman itu sendiri. Tapi, menurutku sendiri, hal-hal yang kurasakan selama aku berada didekat teman-temanku, adalah kenyamanan. Baik ketika bicara maupun tidak. Buatku, teman adalah seseorang yang aku bisa berjalan bersamanya dalam diam tanpa perlu merasa canggung. Orang yang akan membuatku tersenyum hanya dengan mengucapkan beberapa kata disaat aku benar-benar khawatir. Orang yang dengan berhati-hati akan menyampaikan pendapatnya tentang diriku dan memberikan solusi semampunya tentang masalah yang kuhadapi. Orang yang bersamanya aku bisa dengan tenang berjalan dan bicara, walaupun orang lain menatapku aneh. Orang yang aku bisa mempercayakan sebagian perasaanku padanya, karena aku tahu aku akan sanggup untuk berterima kasih dan meminta maaf padanya. Orang yang mampu mengeluarkan pribadi asliku bahkan disaat aku menutup diri. Orang yang sedikitnya tahu tentang diriku. Orang yang aku ingin berguna baginya. Orang yang ingin selalu kulindungi dan kudoakan. Orang yang kusayangi, kuhormati, dan kukagumi. Orang yang berharga bagiku.
.....Hitotsu hitotsu dakishime nagara egao ni kaeru yo.....
.....Yasashii, kimi no koko de deaeta, hanaretakunai yo.....
To all my friends, I love you!!!
Senin, 04 Agustus 2008
Egois
Seringkali kita tidak sadar dengan keegoisan kita. Kita hanya memikirkan diri sendiri dan sama sekali tidak memikirkan orang lain, ketika melakukan hal tersebut. Namun, ada pula kalanya saat kita tidak berniat untuk bersikap egois ataupun berkata egois, namun kesan itulah yang tertangkap oleh orang-orang disekitar kita.
Ada saatnya, dimana kita berusaha untuk memikirkan orang lain, namun justru keegoisanlah yang tampak. Bahkan, mungkin ketika aku sedang ngomongin masalah egois saat ini, sebenarnya aku mungkin sedang bersikap egois.
Karena pembicaraan dengan teman tadi, aku jadi berpikir juga, betapa beruntungnya orang-orang yang punya orang lain untuk mengingatkan dirinya saat orang itu bersikap egois. Tapi, perlu kita pikirkan lagi, saat kita mengatakan orang lain egois, apakah saat itu kita tidak sedang bersikap egois? Bagaimanapun saat itu kita sedang berhadapan dengan orang lain yang juga memiliki hati yang dapat terluka.
Jika kita mengatakan bahwa orang itu egois sampai menyakiti hatinya, bukankah itu juga sesuatu yang dapat disebut keegoisan juga?
Masalah egois ini kelihatannya seperti roda yang tidak terputus. Karena, bagaimanapun juga manusia sebagai suatu individu harus memikirkan dirinya sendiri agar dapat bertahan hidup. Tidak mungkin seseorang (ingat, manusia tidak sempurna) tidak pernah bersikap egois sekalipun sepanjang umurnya. Dan tidak ada jalan untuk sama sekali menghilangkan keegoisan dari diri kita. Selama manusia masih hidup, ia punya kewajiban untuk memikirkan hidupnya memikirkan dirinya, kepentingannya, dan kebutuhannya.
Lalu, yang bisa kita lakukan hanya berusaha...setidaknya berusaha untuk tetap memikirkan orang lain, sekalipun kita tetap bersikap egois, bahkan disaat memikirkan kepentingan orang lain.